Selasa, 16 Juni 2009

Empat Sembilan

Satu tahun lagi menjelang ulang tahun emas… ya kalau Tuhan berkenan memberi kesehatan dan umur panjang.

Kemarin orangtua kami memperingati 49 tahun usia pernikahan mereka. Puji Tuhan, selama ini mereka telah menempuh kehidupan bersama sebagai pasangan yang saling menghormati, mengasihi… pastinya banyak hal yang dilalui dalam episode kehidupan mereka yang tak sepenuhnya kami ketahui. Namun menyaksikan kebersamaan dan hubungan mereka yang baik-baik saja, rasanya selayaknya kami bersyukur terlebih atas campur tangan Tuhan dalam kehidupan rumahtangga orangtua kami.

Empat puluh sembilan tahun.. betapa lamanya waktu. Sungguh luar biasa menyaksikan orang tua kita bisa mempertahankan perkawinan mereka hampir separuh abad. Mungkin pada generasinya, banyak juga yang punya pengalaman serupa, tapi di jaman sekarang kebersamaan yang bisa teruji sedemikian lama tentulah hal yang sangat langka.

Mengingat di masa ini banyak sekali perkawinan yang kandas di tengah jalan, aku bertanya-tanya mengapa generasi sebelum kita bisa lebih bijaksana dalam segala hal termasuk dalam hal mempertahankan kesetiaan dan sukses jadi pasangan yang harmonis hingga oma - opa.

Mengutip Victor Hugo, katanya kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan adalah dicintai apa adanya, atau dicintai dengan segala kelemahan kita. Dan menurut teori tahapan ini adalah level pamungkas, dicapai saat usia perkawinan memasuki usia 20 tahun keatas….

Hmmmm…. mungkinkah pasangan generasi lalu lebih bisa bertahan karena lebih 'rendah hati' hingga sanggup menerima perbedaan pasangannya? Atau kecenderungan orang modern yang makin egois dan mandiri hingga kurang mampu menerima perbedaan dan pertentangan?

Betapa seringnya kita kecewa dengan pasangan karna berbeda pendapat, tidak sejalan dan tidak sesuai dengan harapan... berapa lama kita sanggup bertahan, menahan kecewa, memberi batas toleransi hingga sadar akan kenyataan bahwa kita adalah dua pribadi yang berbeda? Apakah saat perbedaan itu terungkap yakni pasangan kita tidak seperti yang kita harapkan, lalu dengan pede kita mengucap kata berpisah ?

Bukankah orangtua2 kita jaman dulu juga menghadapi problema yang kurang lebih sama dengan pernikahan kita jaman sekarang ? Begitu jauhkah rentang waktu hingga mampu menggerus nilai moral dan kepatutan yang kita anut.

Kegagalan perkawinan yang diekspos di media adalah contoh paling gampang yang bisa kita temui hari2. Bahkan yang paling gress, penyanyi dangdut yang baru tiga bulan menikah sampai luka-luka terserempet mobil sang suami yang berusaha kabur ; saat dipergoki sedang berdua2an di puncak. Ironisnya, awal pernikahan mereka sebelumnya sudah menunjukkan ketidak-beresan karna konon sang suami masih berstatus suami orang, namun entah karna ‘kekuatan cinta’ atau faktor lain, si artis menyangkal mentah-mentah dan membela si suami mati2an… ahhhh !!!

Betapa carut-marutnya pernikahan jaman sekarang. Seringkali kedangkalan emosi berkedok cinta membunuh rasio dan hikmat seseorang. Begitu mudahnya cinta itu luntur dan kesetiaan itu menguap. Bahkan awal2 perkawinan yang mestinya manis pun hanya bertahan beberapa bulan saja….. fuihhh…

Kembali membandingkan 49 tahun perkawinan orangtua kami dengan perkawinan ala artis sungguh seperti langit dan bumi. Dan betapa beruntungnya kami, anak-anak dari orangtua-orangtua yang menjunjung tinggi ikatan pernikahan. We are so blessed, mempunyai model dan panutan dalam kehidupan rumah tangga yang mampu membuat kami merenung dan berpikir bahwa kelanggengan pernikahan adalah prestasi, kebanggaan dan kebahagiaan, bahkan tentu Allah di surga pun sepakat !

Konon Allah sebagai disainer utama pernikahan pun sangat suka dengan ide pernikahan tersebut, hingga mengawali kitabNya dengan perkawinan dan menutupnya dengan perkawinan juga (^_^)….. dan jangan lupa, mukjizat pertama yang dilakukan Yesus juga dalam pesta perkawinan di Kana !!!

Begitu penting dan sakralnya ikatan perkawinan dimata Tuhan, begitu jugakah di mata kita sebagai pelakunya ?

Jadi sekali lagi, selamat untuk mom & dad, God bless your love forever !



Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19:6)

4 komentar:

Arman mengatakan...

happy anniversary buat papa mamanya yaaa

Ayik dan Ernut mengatakan...

smoga mbak lind ketularan langgeng dan rukunnya ...amiinn..

Sekar Lawu mengatakan...

happy anniversary buat Oma dan Opa...satu tauladan buat kita putra putrinya...

- mengatakan...

Terharu... 49 sebentar lagi pernikahan emas. Luar biasa. Semoga bahagia dan sehat selalu...

site statistics