Setelah lebih dari dua bulan kakakku nginap di rumah untuk urusannya yang fantastis, akhir Januari kemaren diapun pulang kembali ke Pontianak.Kakak perempuanku ini masih single dan tinggal sendiri di Pontianak, menunggui rumah orang tua kami. Komunikasi kami cukup intens dan sesekali dia berkunjung ke Jakarta.
Karena bapak cuma tinggal berdua dengan adikku yang lelaki, aku selalu membujuknya untuk pindah saja ke ibukota menemani bapak ; tapi dia selalu mengelak dengan berbagai alasan. Gaya hidup jakarta gak sesuai untuknyalah, terlalu crowded-lah dan berbagai alasan lain yang menurutku dicari2, entah kenapa dia lebih suka tinggal di sana sendiri..
Kakakku ini orangnya lembut dan halus, beda dengan aku yang ceplas ceplos. Badannya juga ringkih dan sering sakit.. walau sekarang rada mendingan, keluhan sakit sudah jarang terdengar. Entahlah apakah ada hubungannya dengan kisah sedihnya jaman dulu ; di tinggal pacar karna menikah dengan istri pilihan orang tua... whallahhh ....... kayak jaman seto noerboyo aja....
Dulu dia pernah bekerja sebagai manajer di sebuah hotel tapi setelah ada kisruh dalam manajemen, dia berhenti dan sempat mencoba beberapa pekerjaan. Seingatku gak ada yang awet hingga ujung2nya dia lebih banyak di rumah.
Lalu, karir terbarunya kemarin adalah sebagai makelar.. istilah lain yang lebih bonafit mungkin broker. Gak tanggung2 yang di broker-i adalah urusan jual beli kapal tugboat, besi baja, kapal tanker, batu bara sampai lahan sawit. Konon untuk urusan lahan sawit itu dia harus berangkat lagi ke Samarinda februari ini.
Walau urusan yang ditangani menurutku sangat fantastis, tapi sampai dua bulan lebih di jakarta belum ada satupun transaksinya yang berhasil…
Bukan meragukan kapasitasnya ; karna saban hari hp yang dua biji itu gak pernah berhenti bunyi dan saban hari juga kakakku itu keluar rumah. Entah janjian meeting dengan calon buyer dan owner atau sekedar meeting strategi, sampai pergi pagi dan pulang malam, bahkan kadang larut malam. Tapi yang gak nahan itu lho… jumlah broker yang terlibat dalam proyeknya ; konon sampai berbelas-belas !
Transaksi belum ada yang gol tapi semua yang terlibat sudah heboh duluan dengan besaran fee yang harus diterima. Aku yang dengar ceritanya cuman bisa geleng2 kepala dan bilang “..capekk deeee…”
Ada lagi cerita buyer yang mendadak mundur karena sakit aneh lalu musti dirawat di RS hingga transaksi batal ; atau pas giliran inspeksi kapal, mendadak ada berita kapalnya udah terjual padahal udah jauh2 terbang ke Batam… halllahhhh !!
Mungkin belum rejeki atau memang dasar orang2 yang ditemui pada sontoloyo semua… tapi alasan kepulangannya kemaren karena musti segera mengurusi status surat2 yang sedang sekarat ; SIM, KTP… yang segera kadaluarsa pas tanggal ulang tahunnya di 1 Februari ….
Jadilah suatu siang, aku, bapak dan Shal mengantar kakakku itu ke bandara untuk naik pesawat jam 3 sore.
Perjalanan ke bandara berlangsung mulus. Setelah say goodbye di depan pintu terminal kamipun segera pulang. Ternyata kemudian.... perjalanan pulang dari bandara ke rumah bahkan ‘lebih mulus’ lagi dari perjalanan perginya!
Kok lebih mulus lagi ? Yang ini kisahnya emang rada aneh bin ajaib….
Waktu perjalanan pulang ini aku hanya satu kali bayar tol bandara yang seharga tiga ribu perak itu. Harusnya seperti perjalanan pergi, ada dua lagi tol yang harus dibayar ..tol yang dua ribu dan tol dalam kota yang lima ribuan itu. Jadi total gerbang tol yang dilewati harusnya ada tiga.
Lalu akupun heran kenapa cuma ada satu gerbang tol yang aku bayari.. kemana perginya dua yang lain ?
“Kok kita gak ketemu gerbang tol lagi ya ?” tanyaku ke bapak, padahal jelas2 kita mengikuti jalan dengan rambu yang berjudul “Jakarta lewat Tol”.
Entah kemana semua gerbang tol menghilang. Walau jarang2 nyopir ke bandara dan gak terlalu familiar dengan jalan2nya, tapi jalan utama kan cuman satu itu, yang berujung di tol dalam kota… kok bisa perginya bayar pulangnya gratis? Lalu uang tolnya pun utuh.
Malamnya aku telpon kakakku mencek keadaan sekaligus cerita tentang kejadian aneh di perjalanan pulang tadi dan kita ketawa-ketiwi. Ternyata gak perlu nunggu transaksi milyaran rupiah gol buat bisa hepi, hal2 sepele juga bisa bikin hepi kok…termasuk tol gratisan ituu...
5 komentar:
hahaha kayak masuk twilight zone aja... tol nya hilang ya... :P
halah....kok bisa ta Mbak Lin ? artinya, salah jalan yak ?
Hihihi...asyik beneeerrrr... (^_^)
Aku kagum sama kakakmu, Lin. Benar2 wanita mandiri. Tapi ceritamu hanya melewati 1 pintu toll dalam perjalanan bandara ke rumah lebih mengagumkan lagi. Benar kata Arman di atas, kayaq masuk twilight zone aja :)
wakaka..seru abis tol gratisan itu, kok bisa ya?
secara di Jkt selalu disopiri dan di Jogja enggak ada tol..sampai skrg saya enggak pernah ngerti gimana toh cara membayar di tol..kok setiap pintu mbayar..setiap pintu mbayar..
(mbak Linda pasti bilang: Oalah..ndeso banget sih yg komen ini, qiqiqi....)
Posting Komentar