Rabu, 04 Februari 2009

Miracles (Part 2)

Hanyut di Sungai

Waktu kelas satu SMP, aku liburan ke kampung tempat kelahiran ibuku.. sebuah ‘benua’ namanya Martinus. Konon dinamakan sesuai nama misionaris Katolik yang pertama kali melayani kampung di pedalaman Kalimantan itu.

Benua Martinus merupakan daerah hulu anak sungai Kapuas yang berbatasan dengan Malaysia. Untuk mencapainya kala itu cuma bisa melalui sungai, itupun setelah menempuh berjam-jam perjalanan dengan speed boat dari Sintang, sebuah kota kabupaten. Jangan bayangkan speed boat modern, tapi perahu sampan yang ditambatkan motor pada bagian belakangnya.

Untuk mencapai Sintang sendiri, dari Pontianak bisa ditempuh melalui jalan darat atau sungai, jalan darat aku lupa waktu tempuhnya ... tapi dengan kapal motor waktu itu mungkin hampir satu setengah hari...

Karena tinggal di pinggir sungai maka berenang adalah hal yang lumrah buat orang-orang di sana, apalagi air sungainya jernih sekali nyaris tanpa polusi. Berada di hulu ; maka setelah kampung kami sudah tidak ada lagi manusia atau kampung lain, lalu melihat orang yang minum air langsung dari sungai jadi pemandangan yang biasa.

Kesempatan mandi di sungai tiap hari tentunya tidak mungkin aku lewatkan. Sabagai ‘anak kota’ aku cukup terlatih berenang di kolam renang, jadi berenang di sungaipun pasti tak jauh beda pikirku.

Saat anak2 lain berenang ke seberang sungai akupun merasa tertantang, jaraknya toh cuma puluhan meter dari sisi tempat kami biasa mandi. Kulihat anak2 yang lain sukses berenang sampai ke seberang ; lalu akupun berenang dengan gagah berani, setelah menolak tawaran sepupuku untuk bersampan saja..

Belum ada setengah jalan melintas sungai… baru kusadar bahwa arus sungai sangatlah deras ! Rasanya begitu tak berdaya…. sekuat tenaga aku berenang tapi terseret arus hingga belasan meter dari titik pertama aku mulai, bahkan nyaris tenggelam karna kakiku tersangkut akar2an di kedalaman sungai…… sementara di pinggir sana, sepupuku menunggu dengan pucat pasi...

Sang paman yang kebetulan melihat segera mengutus sepupuku yang lain lagi untuk menjemputku pulang dengan perahu sampan. Sesampai di rumah kami habis2an dimarahi paman, katanya jaman konfrontasi dengan malaysia dulu, banyak tentara yang mati karna hanyut terseret arus di hulu sungai itu….

Wuihhh ngeri kalii… tentara yang sudah dilatih perang saja mati hanyut apalagi ‘anak kota’ macamku… sungguh Tuhan sedang bermurah hati…


Batu Payung

Di waktu lain lagi, saat aku SMA… kami sekeluarga pesiar ke Batu Payung, tempat wisata yang letaknya tak jauh juga dari Singkawang. Pantainya menghadap laut Cina Selatan. Kuduga disebut ‘batu payung’ karena dipinggir pantai terdapat bukit-bukit batu yang berbentuk seperti payung… bundar-bundar gitu… lalu jadilah “Batu Payung”..

Pelancong yang tak bisa diam, itulah aku dan saudaraku yang berpetualang menyisir bukit batu di pinggiran pantai. Bukit batu yang kami panjati tak terlalu tinggi, mungkin hanya belasan meter saja... tapi pantai dibawahnya memang hamparan batu…

Waktu memanjat dan menyusur bukit batu itu aku melongok ke bawah.... sungguh pinggir pantai yang cantik sekaligus mematikan. Karna kalau jatuh terhempas kebawah kecil kemungkinan selamat, pasti terbentur batu ! Tengahku berpikir kemungkinannya, kakiku terpeleset ....

Beberapa detik aku kehilangan keseimbangan…

“Tuhan tolong !!” ....... sembari terbayang aku pasti mati kalau jatuh disini…

Tapi lalu ada malaikat yang menahanku !!

Saudaraku yang berjalan tepat di belakang, menahan badanku hingga tak sampai jatuh dan aku kembali mendapatkan keseimbanganku. Dengan muka panik ia mengingatkan untuk hati-hati…

Sungguh sebuah tindakan penyelamatan yang gemilang !!

Aku berterima kasih kepadanya, sekaligus bersyukur tangannya dipakai Tuhan… sebuah refleks yang amat cepat ! Bahkan aku sama sekali tak menyangka akan selamat !

7 komentar:

Ge Siahaya mengatakan...

Wow! Wow! Ternyata orang Kapuas yaaa.. Kakek buyut saya dari bagian ibu, dari Bakumpai, itu juga pedalamannya kalimantan, tapi saya belum pernah ke sana.

Memang benar tangan TUHAN selalu melindungi disetiap kesempatan, sy jadi merinding baca kesaksian ini, How GREAT is our GOD!

Ge Siahaya mengatakan...

Btw, yg waktu itu bukannya apa2 siy..hihi, blognya dikunci sementara cuma karena mau kutak-katik template, lalu lampu mati, trus sy ketiduran, bangun2 jalan2 ke Bintaro, lupa deh sama blog yg masih di gembok, haha, baru ingat blog digembok waktu dapat email dari teman yg minta di invite ke blog dan nanya ada apa kok blognya di gembok, waduuhhh... baru sadar, haha.. gawat mmg udh nambah uban, rontok juga sel-sel pengingat di otak ini (^^,)

Ernut mengatakan...

keajaiban tangan Tuhan terbukti lagi dan lagi...

Arman mengatakan...

God is good, right? :)

Boodeznee mengatakan...

Wadoh, bahaya koq kayaq bayangan ya Lin, ngikut terus.

Untung kita punya Tuhan yang luar biasa ya.

kRucIaL mengatakan...

Tuhan memang begitu sempurana bwat kita, tp kadang kita sering lupa akan itu...

Sekar Lawu mengatakan...

selamet sega liwet Lin....

site statistics