Roxanne is a name of my black tan rottweiler. Kupiara dari umur tiga bulan anjing kecil hitam itu sekarang sudah lima kali ukuran semula.
Memelihara ‘anak bungsu’ ku ini memang gampang-gampang susah. Awalnya niat memelihara anjing murni karna faktor keamanan, soalnya rumah tinggalku pernah hampir dibobol entah maling entah rampok. Tralis jendela sudah separuh dipreteli sebelum akhirnya kita terbangun dan membunyikan alarm mobil berjam-jam sampai tetangga bangun.
Adalah teman hubby yang menawarkan anak anjingnya pada kami, kalau diingat-ingat sebenarnya setengah memaksa juga, mungkin karna di rumahnya sudah kebanyakan anjing. Ditawarin Rottweiler gratis sesungguhnya cukup menggoda buat pecinta anjing, pasalnya harga pasaran untuk anakan anjing ini bisa mencapai dua jutaan seekor.
Semula aku ragu memelihara anjing ini, namun setelah browsing di internet mencari tau segala sesuatu tentang anjing ras ini barulah aku merasa sedikit pede.
Akhirnya Roxanne kecil kujemput juga dirumah temanku itu. Agak kaget juga karna kupikir anjing umur tiga bulan pastinya muat di atur dalam kardus indomie, sekedar tak mengotori mobil maksudnya. Ternyata dugaanku meleset, si kecil Roxanne saja sudah sebesar kardus indomie waktu kujemput, walau umurnya baru tiga bulan !!
Memesan kandang yang didisain sendiri dan survey harga di beberapa bengkel las pun sudah kulakoni hingga akhirnya jadi juga kandang si Roxy. Lalu giliran lahan bermain anjing jadi bahan pikiran, karna semakin hari roxy kecil makin besar hingga setelah empat bulan kemudian aku tak sanggup lagi menggembalakannya.
Penggembalaan Roxy ini cukup rutin dilakukan, saban sore kalau tak hujan, ditemani anakku, kami berjalan di kompleks rumah. Sekali waktu aku pergi ke rumah iparku yang agak jauh dan sepanjang perjalanan itu berubah jadi mimpi buruk karna roxy kecil diintimidasi anjing sekampung. Aduhh kapok deh, masa anjing ras ; Rottweiler pula, takut sama anjing kampung nan kudisan, mana sempat digigit ekornya pula !!!
Jadilah aku yang kewalahan mengusir anjing kampung, memegangi anjing dan melindungi anak kecilku. Never never again ! jangan sekali-kali pergi keluar wilayah kekuasaan, itu pelajaran yang kudapat hari itu.
Belum lagi dewasa, anjing yang baru empat bulan itupun sudah pernah dilamar orang di jalan.. ck, ck, ck … mungkin harus kupikirkan juga soal mas kawinnya.
Gara-gara punya anjing, urusan libur pun sempat terbengkalai. Hampir setengah tahun aku tak bisa sekedar week-end atau berlibur ke luar kota, cuma karna takut roxanne terlantar di rumah ! Baru setelah melibatkan mertua urusan liburan bisa kembali normal dan Roxanne-pun bisa tetap makan.
Demi Roxanne, aku pun merelakan 15m persegi halamanku jadi lahan bermain lengkap dengan semen kasar (sesuai saran dokter hewan) supaya Roxanne gak kepleset. Yaah, cukup worthy dibanding investasi waktu jalan-jalan tiap sore.
Yang paling bete pastinya urusan pub anjing, karna Roxanne sudah tak dibawa jalan keluar rumah, jadi pubnya ya di lahan bermain itu. Alhasil tiap pagi bibi kebagian urusan bersih-bersih, dan sore aku yang bersih-bersih karena anjingku harus dibawa ke luar kandang. Oya, jangan lupa, urusan keluar masuk anjing dari kandang juga jadi pekerjaan harian sama seperti antar jemput anak sekolahan …
Selama tiga hari kutinggal di rumah sakit kemaren rupanya Roxanne kesepian kehilangan ‘induknya’, jadi waktu aku pulang dia terlihat sangat excited, gonggongannya begitu seru menyambutku pulang ke rumah.
Beberapa hari setelah luka operasi sembuh baru aku bisa mengurusinya, ya itu tadi urusan mengeluarkannya dari kandang… rupanya karena saking kangennya Roxanne tak bisa mengendalikan diri dan heboh menciumi dan memanjati badanku hingga akhirnya … pokkk… menanduk mukaku dengan moncongnya….
Roxanne oh Roxanne…betapa aku jadi korban kerinduan seekor anjing !! Akibatnya gigi depanku patah, bibirku jontor dan luka !!!. Sambil meringis aku lapor ke hubby, “anjing bodoh itu bikin gigiku patah” … aduh malang sekali sih nasibku. Apa mau di kata, hari itu selain konsultasi luka operasi (karna memang sudah waktunya) aku juga ke dokter gigi memesan gigi baru… empat juta rupiah ongkos kangen si Roxanne harus ditanggung pihak asuransi …
Aduh maaf yaa pak, bulan ini biaya pengobatan agak boros, usus buntu, patah gigi… entah apalagi
Memelihara ‘anak bungsu’ ku ini memang gampang-gampang susah. Awalnya niat memelihara anjing murni karna faktor keamanan, soalnya rumah tinggalku pernah hampir dibobol entah maling entah rampok. Tralis jendela sudah separuh dipreteli sebelum akhirnya kita terbangun dan membunyikan alarm mobil berjam-jam sampai tetangga bangun.
Adalah teman hubby yang menawarkan anak anjingnya pada kami, kalau diingat-ingat sebenarnya setengah memaksa juga, mungkin karna di rumahnya sudah kebanyakan anjing. Ditawarin Rottweiler gratis sesungguhnya cukup menggoda buat pecinta anjing, pasalnya harga pasaran untuk anakan anjing ini bisa mencapai dua jutaan seekor.
Semula aku ragu memelihara anjing ini, namun setelah browsing di internet mencari tau segala sesuatu tentang anjing ras ini barulah aku merasa sedikit pede.
Akhirnya Roxanne kecil kujemput juga dirumah temanku itu. Agak kaget juga karna kupikir anjing umur tiga bulan pastinya muat di atur dalam kardus indomie, sekedar tak mengotori mobil maksudnya. Ternyata dugaanku meleset, si kecil Roxanne saja sudah sebesar kardus indomie waktu kujemput, walau umurnya baru tiga bulan !!
Memesan kandang yang didisain sendiri dan survey harga di beberapa bengkel las pun sudah kulakoni hingga akhirnya jadi juga kandang si Roxy. Lalu giliran lahan bermain anjing jadi bahan pikiran, karna semakin hari roxy kecil makin besar hingga setelah empat bulan kemudian aku tak sanggup lagi menggembalakannya.
Penggembalaan Roxy ini cukup rutin dilakukan, saban sore kalau tak hujan, ditemani anakku, kami berjalan di kompleks rumah. Sekali waktu aku pergi ke rumah iparku yang agak jauh dan sepanjang perjalanan itu berubah jadi mimpi buruk karna roxy kecil diintimidasi anjing sekampung. Aduhh kapok deh, masa anjing ras ; Rottweiler pula, takut sama anjing kampung nan kudisan, mana sempat digigit ekornya pula !!!
Jadilah aku yang kewalahan mengusir anjing kampung, memegangi anjing dan melindungi anak kecilku. Never never again ! jangan sekali-kali pergi keluar wilayah kekuasaan, itu pelajaran yang kudapat hari itu.
Belum lagi dewasa, anjing yang baru empat bulan itupun sudah pernah dilamar orang di jalan.. ck, ck, ck … mungkin harus kupikirkan juga soal mas kawinnya.
Gara-gara punya anjing, urusan libur pun sempat terbengkalai. Hampir setengah tahun aku tak bisa sekedar week-end atau berlibur ke luar kota, cuma karna takut roxanne terlantar di rumah ! Baru setelah melibatkan mertua urusan liburan bisa kembali normal dan Roxanne-pun bisa tetap makan.
Demi Roxanne, aku pun merelakan 15m persegi halamanku jadi lahan bermain lengkap dengan semen kasar (sesuai saran dokter hewan) supaya Roxanne gak kepleset. Yaah, cukup worthy dibanding investasi waktu jalan-jalan tiap sore.
Yang paling bete pastinya urusan pub anjing, karna Roxanne sudah tak dibawa jalan keluar rumah, jadi pubnya ya di lahan bermain itu. Alhasil tiap pagi bibi kebagian urusan bersih-bersih, dan sore aku yang bersih-bersih karena anjingku harus dibawa ke luar kandang. Oya, jangan lupa, urusan keluar masuk anjing dari kandang juga jadi pekerjaan harian sama seperti antar jemput anak sekolahan …
Selama tiga hari kutinggal di rumah sakit kemaren rupanya Roxanne kesepian kehilangan ‘induknya’, jadi waktu aku pulang dia terlihat sangat excited, gonggongannya begitu seru menyambutku pulang ke rumah.
Beberapa hari setelah luka operasi sembuh baru aku bisa mengurusinya, ya itu tadi urusan mengeluarkannya dari kandang… rupanya karena saking kangennya Roxanne tak bisa mengendalikan diri dan heboh menciumi dan memanjati badanku hingga akhirnya … pokkk… menanduk mukaku dengan moncongnya….
Roxanne oh Roxanne…betapa aku jadi korban kerinduan seekor anjing !! Akibatnya gigi depanku patah, bibirku jontor dan luka !!!. Sambil meringis aku lapor ke hubby, “anjing bodoh itu bikin gigiku patah” … aduh malang sekali sih nasibku. Apa mau di kata, hari itu selain konsultasi luka operasi (karna memang sudah waktunya) aku juga ke dokter gigi memesan gigi baru… empat juta rupiah ongkos kangen si Roxanne harus ditanggung pihak asuransi …
Aduh maaf yaa pak, bulan ini biaya pengobatan agak boros, usus buntu, patah gigi… entah apalagi
1 komentar:
Hahahaaaa.... malah jadi luka gara2 Roxane, cinta itu bisa melukai, hihi.. Saya jadi ingat anjing kecil saya yang sudah almarhumah, namanya Pikoro dan belagunya minta ampun! But i loved that dog and she adored me, so... (^_^)
Posting Komentar