Kamis, 08 November 2007

Blessing in Disguise

Hari-hari belakangan ini rasanya berat dan melelahkan. Setelah dua kehilangan yang menguras energi dan emosi. Kehilangan pertama adalah perginya mama tercinta yang sudah lewat 40 hari perginya. Rasanya sih kesedihan itu sudah menjadi kepasrahan dan kelegaan karna she's in the better place now. Yang tersisa ya.. kerinduan, ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan terutama karna hari-hari terakhir mama banyak dihabiskan di rumah dengan cucu-cucunya. Penyesalan-penyesalan yah rasanya surut dengan sendirinya...

It's funny to know bahwa orang selalu menyesal dan menyadari betapa berartinya seseorang atau sesuatu setelah orangnya gak ada. K ayak aku sekarang ini, menyadari ternyata mama adalah bagian dari hidupku yang hampir selama 38 tahun selalu ada, walau gak 24 jam sehari tapi whenever I need her, or want to talk to her, or to meet her, she's there.

Belakangan ini perutku kembung terus, udah diminumin policrol (kayak nama pembersih lantai atau barang elektronik ya) masih tetap kembung. Padahal menurut hubby itu obat kembung yang lebih manjur dari mylanta. Konon katanya ampuh, karna dulu dia juga pernah minum waktu mengalami hal serupa.

Anyway, ternyata menurut analisa hubby kembungku itu karna pikiran, ya itu tadi karna the great loss that I had. And you know what, he say that ; Life goes on, and I have to take care of my two kids. Jadi secara gak langsung dia keberatan (?) dengan masa perkabunganku (kah). Rasanya jadi lucu dan sedikit menyebalkan, padahal aku gak pernah menunjukkan gejala2 depresi atau frustasi, sedeh so pasti karna mamaku yang pergi. Dan itu tadi, she's been in my whole life before, bandingkan dengan usia pernikahanku yang baru 8 tahun, maksudnya masaku melewati hidup dengan suamiku belum ada seperempat masaku melewati hidupku dengan mama.
Pastinya kenangan yang sekian puluh-puluh tahun itu banyak banget atau ibarat perbandingan Kb dengan Gb.... yah apa mau dikata itu yang terjadi.
Bagusnya aku gak terlalu hirau akan komentarnya, jadi gak jadi bahan berantem baru. Cuman jadi berpikir mungkin betul I need more time to recover from my grieve, tapi pasti gak se-obvious itulah. Waktu dulu putriku pertamaku pergi juga, bahkan hubby need more than a year to recover! That's why he know what medicine to take if you had gas in your stomach !!!

Kehilangan kedua adalah masalah jamak ibu rumah tangga di Jakarta ; PRT.
Yang satu ini benar-benar menguras energi dan emosi, ya marah, kesal, sebel, dan capek pastinya. Aku suka mikir sebenarnya berapa lama sih idealnya PRT bisa betah di rumah ?
Aku pernah punya PRT yang sangat diimpikan ibu-ibu seantero Jakarta (rasanya), orangnya baik, rajin, sabar, pinter masak dan urusin rumah, urusin anak pokoknya a real supermaid deh. Tinggal di rumah tiga tahun sampe akhirnya pulang kampung karna menikah, jadi dari aku hamil anak kedua sampai ulang tahun yang ketiga anakku ; dia tinggal dengan kita. Jadi selama 'masa-masa keemasan" itu aku bisa berkarir di kantor dengan tenang dan baru jadi ibu rumah tangga setelah jam kantor berakhir.

Setelah kepulangan generasi pertama PRT, domestik problem mulai mendominasi, PRT silih berganti dan kwalifikasi makin berkurang. Akhirnya title senior manager pun tinggal kenangan, no regret (tentunya) karna aku percaya Tuhan juga campur tangan dalam hal ini.
Tapi bertubi-tubi urusan rumah tangga jadi konsumsi hari-hari, sampe kemaren PRT ku yang baru 3 bulan kerja minta ijin pulang lebaran, gak ku kasilah pastinya. Logikanya baru datang udah mo pulang liburan, orang kerja kantor aja 3 bulan masih terhitung probation kok, ehh ini malah minta cuti.
Well singkat kata, di suatu subuh yang menghebohkan, sekelompok orang numplek depan rumahku, ngebel pintu pagar dari jam 3 sampe jam 6 pagi , pake acara setel lagu dangdut pula sembari menunggu. Mana donk adat istiadat sopan santun ala desa Jawa Tengah-an yang kesohor itu ? Lagian hanya rampok yang berkunjung subuh-subuh, alhasil setelah matahari terbit baru kubukakan pagar, dan mengantar si PRT kepada para penjemputnya sembari berpesan ala Krisdayanti "thank you and goodbye". Please don't come back again.

Sekarang aku masih bertahan dengan satu pembantu, but this one is very .... gak tau deh, yang jelas mungkin Tuhan sengaja ngasi si bibi untuk melatih kesabaran dan menguji karakterku. Yang jelas aku jadi sering mengumpat 'goblok' dan 'bloon' sembari marah-marah sendiri. Tapi ironisnya cuma bibi yang sejak jauh-jauh hari bikin komitmen untuk setia jadi PRT di rumahku. Mungkin karna umurnya yang 45 tahun itu, bibi sadar dia gak terlalu kompetitif lagi karna kalah gesit, kalah kuat, kalah energik... itu kata 'logika sirik' ku.

Well that's about life, PRT ternyata komponen yang sangat penting dalam suatu rumah tangga (bagiku) apalagi dengan dua anak yang gak pernah habis energi seperti iklan batu batere.

A blessing in disguise kah si bibi ?

Tidak ada komentar:

site statistics