Kamis, 13 November 2008

Dunia Tanpa Suara

Suatu siang di pembaringan, airmata pun menetes karena sepenggal cerita …

Sebuah film sederhana, tentang drama kehidupan keluarga yang sungguh tidak sederhana, ada konflik yang dalam dan rumit sekaligus juga nilai yang indah…

Bercerita tentang anak tunarungu terlahir dari ibu tunarungu dan ayah normal. Konflik muncul tatkala si ayah bermaksud mencoba terapi bagi sang anak, guna memperkenalkan sebuah dunia yang bersuara ; namun hadapi rintangan dari sang ibu dan keluarganya yang terlahir tuna-rungu…

Perseteruan antara yang normal dan tunarungu akhirnya pisahkan keluarga yang semula baik-baik saja….
Sang ayah mungkin rindukan si anak nikmati indah dentingan gitar yang dipetiknya… tapi keluarganya yang tunarungu begitu yakin dunia tanpa suara tak kurang indahnya….

Walau sengaja sisakan tanda tanya pada akhirnya, kisah ini berhasil sampaikan pesan ; bahwa mungkin ada hal yang kita anggap sebuah kekurangan yang tak wajar… namun bagi sebagian orang yang mengalaminya adalah kewajaran dalam dunianya ; yang bahkan tak perlukan perubahan….! Kepasrahan sekaligus percaya yang dalam, bahwa sesuatu pasti ada maksudnya...

Dua keinginan berbeda yang sama-sama ingin dihargai…. tak ingin mengecilkan hanya mau melengkapi…. melengkapi sesuatu yang dianggap sudah lengkap ! Laksana sebentang tali berujung dua masing-masing pada ujung berbeda…

Pernahkah kau terbayang sebuah dunia tanpa suara…? Hanya berisikan gambar-gambar berwarna… tapi begitu sunyi, begitu diam … apakah lalu menjadi tercekam sepi ?

Bagaimana bila memang tak pernah mengenal suara sejak semula.... bukankah lalu menjadi suatu yang biasa saja? Mungkin hanya bermakna ketenangan abadi … keheningan dengan magisnya sendiri...

Aahhhhh….. jangan-jangan kuncinya hanya pada rasa cukup dan syukur saja…

6 komentar:

Arman mengatakan...

iya kita harus bersyukur karena panca inderanya lengkap....

Anonim mengatakan...

dalemmm bangett, buk!!
keren banget tulisan lo.
penulisannya, maknanya, the way you deliver it to your readers... keren banget, lin!

Sekar Lawu mengatakan...

setuju....

(sambil menyeka air mata (bukan buaya))

Ernut mengatakan...

terharu...

kRucIaL mengatakan...

aku suka bagian intinya...
cukup dan bersyukur... ^^

Anonim mengatakan...

cukup dan bersyukur

tak ada yg lebih bermakna dr kalimat itu

site statistics