Jumat, 10 Oktober 2008

Anak dalam Keluarga, Pentingkah ?!

Beberapa waktu lampau aku dan suami pernah ikut parenting class tentang 'multiple intelligence' pada anak yang diadakan oleh sebuah gereja. Kuingat pada salah satu sesi, pembicaranya adalah seorang rohaniawan sekaligus dosen yang bertitel S3, tapi entah kenapa aku tidak 'click' dengan materi yang dibawakannya saat itu. Padahal selain pintar, diapun ayah dari beberapa orang anak. Yang membuatku tidak 'click' mungkin pendapatnya yang kurang lebih mengatakan :


"…anak-anak adalah karunia Tuhan yang istimewa dalam sebuah keluarga. Kehadiran anak-anaklah yang membuat keluarga menjadi sempurna dan utuh ; karunia itu patut disyukuri orang tua karena dipercaya Tuhan mendidik dan mengasuh anak-anak tersebut …"


Sepintas seolah tak ada yang salah dengan statemennya itu, kuingat saat itu aku dan suami saling bertukar pandang sambil mengerutkan kening. Setelah beberapa waktu ternyata 'kecurigaan' kami terbukti, karna dia begitu menekankan bahwa kehadiran anak adalah hal yang sangat penting dan istimewa. Bahkan menurutnya tanpa kehadiran anak, sebuah keluarga tidaklah komplit !


Benarkah pendapat bahwa keluarga tidaklah utuh tanpa kehadiran anak? Di mata siapa? Tuhan, rohaniawan atau segelintir orang? Lebih pentingkah anak dibanding pasangan itu sendiri?


Mungkin ada pasangan yang sengaja memilih untuk tidak punya anak dengan alasan tertentu, tapi bagaimana dengan berjuta-juta pasangan suami istri yang beriman pada Tuhan ; bertahun-tahun berdoa merindukan kehadiran anak, tapi belum mendapatkannya! Tidak utuhkah keluarga mereka...?


Tak perlulah membahas pilihan pasangan pertama tapi bagaimana dengan yang kedua?

Mungkinkah ada 'penghalang' hingga Tuhan tidak berkenan memberi keturunan ? Kalaupun ada ; bagaimana kita dapat menghakimi mereka ?! Pastilah Tuhan yang paling tahu alasan menunda atau tidak menghadirkan anak dalam sebuah keluarga ; dan tak ada yang berhak meragukan keputusanNya lalu secara sembrono mengklaim sebuah pernikahan tidaklah utuh kalau tidak ada anak didalamnya ! Bukankah sebuah pernikahan (ideal) diikat dengan berkat Allah?!


Pada awal penciptaanpun, hanya ada satu Adam dan satu Hawa di taman Eden ; konsep pernikahan yang kukenal mengatakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan orang-tuanya untuk bersatu dengan istrinya. Memang ada juga perintah Tuhan untuk beranak-pinak memenuhi dan menaklukkan bumi, tapi tidak lalu mempengaruhi konsep pernikahan pada awalnya.


Aku jadi teringat kejadian sembilan tahun lalu, waktu aku dan suami baru menikah. Tidak menunggu lama kami lalu dikaruniai bayi perempuan yang sangat cantik. Tapi kebahagiaan itu tidaklah lama, belum sampai lima bulan Tuhan mengambilnya kembali. Apakah kami patah hati….? Ohhh amat sangat !!! Apalagi suamiku, selama hampir setahun dia bolak-balik ke UGD mengeluh sakit ini dan itu…. tapi setelah diperiksa tidak ada satupun yang salah dengan dirinya. Lalu apa penyebabnya? Ternyata karna sedih, kecewa dan patah hati !! Pihak keluarga walau kelihatan lebih tabah tapi juga sangat bersedih, apalagi anak kami adalah cucu pertama dua belah pihak…!!


Sekarang bayangkan perasaan pasangan yang menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangga ; kerinduan hati mereka juga keluarga besar mereka. Jika ditambah pandangan sembrono bahwa keluarga tidaklah utuh tanpa anak… betapa tertekannya mereka. Bahkan bisa jadi keutuhan rumah-tangga terancam karna tidak ada keturunan dan bayangkan..... berapa juta pasangan akan bercerai kalau menganut paham seperti itu….!!!


Akhirnya pada akhir sesi, pembicara lain yang seorang psikolog menengahi pendapat rohaniawan tersebut dan mengatakan bahwa kehadiran anak adalah bonus yang Tuhan beri dalam sebuah keluarga….. tanpa kehadiran anakpun sebuah pasangan tetaplah keluarga yang utuh yang bisa saling mengisi, melengkapi dan patut mensyukuri kebersamaan mereka….


Syukurlah !!.... Walau aku tidak pasti apakah seluruh peserta sepakat dengan kesimpulan akhir si psikolog atau malah setuju dengan pendapat si rohaniawan , entahlah…


Bagaimana dengan anda... ?

5 komentar:

Anonim mengatakan...

wah aku kok gak habis pikir rohaniawannya ngomong begitu. pendapatnya amat sangat dangkal dan tidak bijaksana

hal ini sama aja jika dia bilang 'seorang manusia hanya akan sempurna dan utuh jika menikah dan memiliki pasangan'. lalu bagaimana dg nasib orang-orang yg sampai mati gak berjodoh. sungguh malang nasib mereka dibilang sbg kaum pariah

aku punya teman yg sudah bertahun2 ingin punya anak, udah usaha segala macam tapi tetap gak berhasil. sekarang usianya udah 50-an mereka menerima kondisi apa adanya. dan pasangan itu adalah salah satu pasangan terharmonis dan terberkati yg pernah kutemui --bahkan dibandingkan pasangan2 kenalanku yg punya anak sekalipun

itu rohaniawan lulusan sekolah teologi mana sih, jadi penasaran mo denger 'ajarannya' yg lain....he3x

Boodeznee mengatakan...

Hahaha, itu bukti nyata bahwa rohaniawan juga manusia biasa, yg bisa saja salah 'menterjemahkan' makna berkat.

Memangnya anak itu objek pelengkap? Kalau nggak ada, artinya nggak lengkap. Kalau gitu Tuhan jahat dong. Kalau Tuhan itu maha baik, apalagi maha adil, mustinya ya semua pasangan diberi jatah, paling nggak masing-masing satu.

Trus jangan2 nanti kalau nanti ada sesi lanjutan dari parenting class itu dibilang lagi pasangan yg gak punya anak itu karena kurang imannya. Wadoh.

Sekarang banyak sekolah teologia yang instant sih. Gak heran deh, produknya kayaq gitu. Eh sorry ya Lin, jadi emosi:)

Linda Rooroh mengatakan...

@Nita & Desny : Iya aku juga masih sebel kalo inget2.. mana waktu itu gak sempet ada sesi tanya jawab ama dia, karna dia lagi buru2 mo ada acara dan pertanyaan juga akhirnya nulis di kertas... Secara aku dan suami juga manusia biasa, kalo kebetulan rohaniawan itu yang bicara di gereja, kita udah underestimate duluan.. hehehe..(Tuhan ampuni kami).. soalnya dia yang mulai duluan seh .. wakakak....

Linda Rooroh mengatakan...

khlkjhkj

Ayik dan Ernut mengatakan...

(ernut)
punya anak atau tidak seharusnya dilihat seperti halnya melihat nasib saja..memang diberi oleh-Nya begitu atau begini..perlu diterima dan disyukuri...

site statistics