Minggu, 07 September 2008

Kartu Pos

Beberapa hari lalu aku dapat kiriman kartu pos. Kartu pos dengan gambar pemandangan kota Delft itu dikirim dari kerabat yang kemarin sempat libur ke Indonesia dan nginep di rumah. Lalu setelah kembali lagi ke negrinya mereka mengirim kartu pos ke alamat kami.


Sudah lama sekali rasanya tidak pernah menerima kartu pos. Mungkin karna tradisi mengirim kartu pos sudah jarang dilakukan. Aku ingat pernah beberapa kali dapat kartu pos dari sanak keluarga yang kebetulan tinggal di luar negri, dan mereka biasanya mengirim kartu pos saat traveling ke negara lain.


Budaya kirim kartu memang masih dilakukan sebagian orang, tapi seberapa banyak ? Kartu pos yang kuterima selama ini kebanyakan dari generasi yang lebih senior. Kenapa ya orang muda jaman sekarang jarang mau berkirim kartu pos ? Atau jangan2 kirim kartu pos bukan tradisi orang Indonesia? (Masa’ sih… apa bedanya dengan budaya mengirim kartu ucapan ulang tahun, kartu natal atau lebaran misalnya... )

Melalui kartu pos kan, kita juga bisa ikut menikmati dan mendapat gambaran dan sedikit informasi tentang daerah dimana kerabat atau teman kita berada.


Mungkin karena jaman sudah canggih, orang sekarang lebih suka memanfaatkan teknologi internet atau handphone. Tapi saudaraku yang kemarin itu selain sudah e-mail dan telpon toh masih menyempatkan diri juga mengirimi kartu.


Rasanya budaya kartu pos memang punya nilai lebih. Untuk mengirim kartu pos, kita perlu menyempatkan diri ke toko buku atau kios2 yang menjualnya, memilih gambar sesuai selera dan pastinya paling tepat mewakili daerah dimana kita berada. Setelah mengirim pesan dibelakang kartupun masih perlu cari perangko dan kantor pos untuk mengirimnya. Belum lagi ketelitian menulis alamat tujuan supaya kartu yang dikirim tiba dengan selamat. Lalu kartu tersebut bisa jadi semacam kenang2an bagi sang penerima.


Jadi menurutku, kerepotan mengirim kartu pos sungguh membutuhkan perhatian dan ‘cinta’ dari pengirimnya. Semoga saja ‘budaya romantis’ itu jangan sampai hilang.


Pernah ada kisah tentang sebuah kartu pos yang melanglang buana hingga 64 tahun sebelum akhirnya tiba ke alamat yang dituju !!!. Kartu pos itu ditulis di Myanmar oleh seorang prajurit Jepang saat perang dunia kedua dan dialamatkan pada sahabatnya di Jepang. Saat menerima kartu pos, sang sahabat yang sudah berusia 80 tahun itu sangat gembira walau mengetahui sang pengirim sudah meninggal dunia !!! Dia mengganggap kedatangan kartu itu seperti mimpi dan pertanda atas persahabatan mereka….


Hmmmm…. aku jadi sedikit menyesal karna kartu2 pos yang pernah kuterima selama ini selalu kuletakkan sembarangan sampai akhirnya hilang entah kemana....


This one, I'll keep ....

4 komentar:

Anonim mengatakan...

memang benar, sepertinya popularitas kartupos udah meredup. terakhir dapet kartupos th 2000. sama dg surat2an juga udah gak pernah, krn ada email dan sms. bisa2 nantinya kartupos jadi penghuni museum

Anonim mengatakan...

sampe lupa kapan terakhir dapet kartu pos.
dapet kartu entah itu kartu natal atopun kertu pos sensasinya beda yah dengan sekedar dapet email ato sms. klo dapet kiriman kertu tuh keiknya lebih berasa klo diperhatiin yah... iya ga sih?

*ngarep dikirimin linda kartu natal yang masih nempel di toples kue* bhuahahahaha...

Boodeznee mengatakan...

Sampai beberapa tahun lalu saya masih suka terima kartupos (dan kartu2 ucapan lainnya) dari teman yang kerja di LN. Tapi sekarang lebih sering email, atau YM. Lebih instant sih.

andre mengatakan...

jadi inget masa dulu. Sebelum ada istilah SMS. kebetulan yang jadi pak pos nya kakak yayangku sendiri.he..he....makasih bro...,lagi ngapain sekarang?

site statistics