Rabu, 03 September 2008

Bapak

Begitulah ayahku menyebut dan membahasakan dirinya pada kami.


Dalam setiap kesempatan ayahku selalu menggunakan kata 'Bapak' baik lisan maupun tulisan. Pada kartu2 yang dikirimkan pada kami, entah ulang tahun, hari raya atau peringatan ultah perkawinan selalu tertera tulisan … with love from 'bapak' …. atau kalau kartu itu mewakili keluarga maka tulisannya pun menjadi … Love from ‘Bapak’, mama, beserta nama kakak atau adikku yang lain....


Bapak selalu senang menulis, pada buku2 yang pernah dihadiahkan untukku dan anak2 pun selalu ada tulisan bapak didalamnya. Sampai sekarang bapak tetap menulis, walau sudah tidak pernah lagi menulis di koran seperti jaman aku sekolah dulu ; tapi ia menyediakan diri sebagai konsultan 'gratisan' yang siap memberi advis dan membantu menyusun draft surat perkara2 hukum seputar pertanahan.


Umur bapak belum ada 70. Niscaya tahun depan baru bapak akan memasuki usia 70. Jadi menjelang hari jadinya, aku menulis artikel ini.


Tiga tahun yang lalu pada ultah salah satu oom dari keluarga suami, kami (aku, suami dan anak2) termasuk kedua orangtua kami turut menjadi undangan. Karna kebetulan oom yang berulang tahun hari lahirnya cuma selisih beberapa hari dengan bapak, bapakpun didaulat menyampaikan kesaksian sebagai ungkapan rasa syukur atas kemurahan Tuhan. Waktu itu bapak dengan terharu mengatakan bahwa pada hari2 menjelang ulang tahunnya dia berharap-harap cemas apakah Tuhan masih memberinya kesempatan untuk sampai pada hari itu …walau terbukti kemudian bahwa justru mamalah yang meninggalkan kami lebih dulu.


Bapak, adalah pribadi yang unik. Aku mengenal bapak sebagai orang yang sangat demokratis, keras tapi juga lembut dan bisa sangat melankolis.


Waktu kami kecil dulu, bapak pernah punya mobil Landrover. Waktu itu kami tinggal di Singkawang ; kota kecil di Kalbar. Aku ingat bapak pernah membawa aku dan kakakku jalan2 dengan Landrovernya. Pada suatu turunan jalan yang sepi.. bapak mematikan mesin mobil lalu keluar dari pintu dan berlari2 disamping mobil yang terus meluncur…… kami berteriak2 histeris antara senang sekaligus takut.. tapi bapak tetap berlari disamping mobil sambil tertawa2 dan melambaikan tangan ; sampai ketika jalanan sudah mendatar lagi, bapak dengan cekatan masuk ke mobil lalu menyalakan mesin kembali…… Kenangan yang tak pernah kulupa !!!


Sejak aku SMA, bapak pindah tugas ke Jakarta tapi setiap ada kesempatan bapak selalu pulang menjenguk kami. Kalau tidak sempat pulangpun bapak selalu mengirimi kami oleh-oleh. Oleh2 dari bapak selalu ajaib dan menarik untuk di tunggu karna isinya barang2 seperti : bedak wangi, sabun wangi.. malah pernah odol gigi, shampoo dll dengan merk yang belom pernah kudengar sebelumnya. Sedang kiriman untuk mama adalah bermacam selai isian roti, keju botol dll. Kenapa bapak suka kasi oleh2 yang begitu ya.. ? Mungkin karna bapak tak pernah ingat ukuran baju atau sepatu anak2nya yang lima orang itu.


Bapak dulu juga sering sekali dapat bingkisan menjelang Natal dan Tahun baru. Selain bingkisan makanan seringkali ada bingkisan wine, brandy, Martini atau minuman keras merk luar negri lainnya. Dan bapak gak pernah pelit, bahkan dia mengijinkan kami mencicipi sedikit minuman tersebut (dari gelas bapak pastinya) ; katanya bagus untuk menghangatkan badan sebelum pergi tidur.


Pernah sekali waktu, semasa aku dan kakakku masih SMA ; kami kelayapan di malam takbiran bermaksud menyambut datangnya lebaran. Aku dibonceng motor dengan ‘pacar cinta monyetku’ lalu kakakku dengan temannya naik vespa, ternyata… di tengah seliweran motor2 itu bisa2nya kami berpapasan dengan bapak didalam mobil Taftnya…!!!! Ternyata bapak memang sengaja patroli mencari dua anak gadisnya yang sedang berusaha menikmati malam takbiran ! Jadilah kami dihentikan di tengah jalan, dan aku dengan rasa malu dan kesal dipaksa bapak ikut didalam mobil sementara kakakku digiring pulang dengan vespanya. Lalu gagallah acara seru2an di malam takbiran itu dan keesokan harinya aku dan kakakku mogok bicara seminggu sebagai bentuk protes !!!


Kenangan paling sedih tentang bapak adalah saat kakakku yang perempuan tutup usia karna kanker pada umur 35. Aku tinggal di kos2an waktu berita duka itu datang. Sambil membereskan barang untuk berangkat ke rumah, aku termenung2 mengingat bapak dan kata2 yang keluar dari mulutku adalah “…aduh kasihan sekali bapak.. dia pasti sedih sekali..”. Karna aku tau bapak sangat sayang dan dekat dengan kakakku yang pertama itu. Waktu aku sampai di rumah .. bapak tidak ada dekat jenazah ; dia mengasingkan diri di kamar atas, dan aku menemukannya di pojok kamar ; duduk di lantai berlinangan air mata sambil berusaha berdoa. Belakangan dia menceritakan isi doanya ; Bapak sedang berharap dan menunggu datangnya mujizat, seperti ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dan saat Dia membangunkan anak seorang janda yang sudah terbaring kaku..!


Kepergian ibuku, beberapa waktu lalu sempat membuatku kuatir dengan bapak. Tapi syukurlah seiring berjalannya waktu kekuatiranku tidak terbukti. Bapak kelihatan cukup tabah menerimanya. Malah beberapa waktu setelah kepergian mama dia bersaksi pada anak2nya. Di malam terakhir saat jenasah mama terbaring di rumah kami, bapak terbangun ditengah malam dan berdiri di samping peti dan ditengah berkecamuknya perasaan.. tiba2 kata bapak ; ia diselimuti rasa damai sejahtera dan suka cita yang luar biasa… dan setelah malam itu dia tidak lagi “meratapi” kepergian mama. Aku yakin penjelasan yang paling tepat karna dia telah mendapat ‘konfirmasi’ bahwa mama sangat bahagia di rumahnya yang baru.


Bapak dan ibuku memanggil satu sama lain dengan sebutan papi, mami. Sedang kenapa lalu bapak menyebut dirinya 'bapak' kepada anak2nya ? Kurasa karna sebutan 'bapak' terdengar lebih berwibawa dan (menurut bapak) ‘tidak cengeng’. Tapi hal itu tidak lalu merubah kebiasaan kami anak2nya (khususnya yang perempuan) memanggil bapak dengan sebutan 'papa'.


Lalu menjelang usia bapak yang ke tujuh puluh, aku mau bilang :


'I LOVE YOU, BAPAK'

You are the best ‘bapak’ a child could have, and I am proud to be your daughter


8 komentar:

Anonim mengatakan...

gw terharu banget baca postingan lo, lin. secara gw pernah ketemu dengan Bapak waktu mama lo dipanggil pulang. walopun gw blom kenal deket tapi dari wajah Bapak emang terlihat semua hal yang lo deskripsiin di sini. seorang yang sangat tegar yet very romantic! lebih2 lagi waktu mama lo dipanggil pulang, tiap kali ngeliat Bapak malah gw yang meleleh air mata. hehehe. cengeng yak gw?

pokoknya ALL the best buat Bapak di hari ulang tahunnya. sampein salam hormat gw buat Bapak yah!

Anonim mengatakan...

jadi kangen ortu nih. saya juga manggil bapak. bapakku cepat emosi dan otoriter, ha3x. sebagian sifatnya juga ada di diriku

Boodeznee mengatakan...

Hiks... aku jadi kangen papaku. Beliau sudah "nggak ada" sejak 2005, tapi kenangan2 manis bersamanya nggak akan pernah "pergi" dari hati ini.

Wiwit mengatakan...

Linnn, two thumbs up utk 'Bapak'. Jadi inget bokap yg udah di surga duluan. My bokap is also the greatest bokap we have ever had. Salam utk 'Bapak' yg mo ultah ke 70 ya.Mudah2an 'Bapak' masih inget gw. Witce

andre mengatakan...

jadi pengen nangis kalo inget aku dah jahat banget ma bapak. menyesal memang selalu datang belakangan. moga-moga aja bapak memaafkan

L. Pralangga mengatakan...

Lepas mbaca ini langsungta telepon ke rumah.. meski jam 2pagi di jakarta.. :D

Wah, jadi kangen mudik nih!

Linda Rooroh mengatakan...

@caroline, salam kompak juga dr bapak
@ernita, aku kebagian sisi sensinya bapak
@desny, disini kita yg kangen disana mereka lagi senang2..hahahah
@wiwit, jgn pake blog fiktif dunkk buat yg beneran, bokap inget kok kan lo jadi saksi nikah gue duluuu
@andre & ksatrio ; mumpung ortu masih ada disayang2 nd kasi perhatian, jgn menyesal kemudian kayak gue ke nyokap dulu... hikss

Ge Siahaya mengatakan...

Hmm.. saya ketinggalan entri ini, sangat menyentuh..

site statistics