Emosi ini sudah sejak dua hari kemarin campur aduk, karna lagi-lagi bom meledak di dua hotel bintang lima di Jakarta. Enam tahun masa tenang seolah tinggal kenangan. Geram, marah, sedih, kesal, kecewa…. sebut saja semua perasaan yang menyesakkan dada.
Kalau benar ada dugaan pelaku bom bunuh diri adalah kelompok teroris yang sama, tetap sulit dimengerti betapa mereka tak peduli dengan apapun, bahkan nyawa mereka sendiri. Entah motif atau doktrin apa yang menjejali kepala peneror hingga rela mati dan mematikan orang lain.... lalu meninggalkan luka besar menganga di hati semua orang. Betapa iblis telah merasuki dan menutup mata hati mereka, lalu mengisinya dengan ‘keberanian’ dan keteguhan bahwa perbuatan keji itu adalah benar dan mulia.
Sebagai orang yang percaya membunuh adalah dosa dan dilarang Tuhan (sampai Ia mengguratkannya pada dua loh batu untuk Musa). Aku berandai-andai tentang apa yang selanjutnya terjadi begitu si pelaku bom mati.
(yaa.. kata yang tepat, berandai-andai ! memang hari-hari belakangan ini aku jadi sering berandai-andai…)
Bingungkah rohnya sesaat setelah mati ; tersedot dalam pusaran lubang maut yang gelap dengan tangan-tangan dan muka-muka seram yang menggapai-gapai ?!!
Berapa detik atau hitungan waktu yang dibutuhkan untuk paham bahwa ia telah keliru dan tertipu sepanjang hidupnya ; bahwa tindakan yang dikiranya mulia dan dapat membawanya pada surga adalah kebohongan besar belaka ?
Menyesalkah dia… ? atau masih tetap yakin telah melakukan kebenaran lalu menganggap sudah terjadi kesalahan pahaman di alam baka sana ?!! Sungguh-sungguh gila kalau pemikirannya tetap yang kedua !
Aneh juga membayangkan aku memikirkan hal itu. Pastilah karena emosi jiwa, padahal dunia orang mati begitu gelap dan rahasia. Kita hanya tau ada surga dan neraka, siapa - kemana, seberapa banyak dan besar kaplingnya .. hanya tinggal tunggu waktu, saksikan lalu jawab sendiri !!
Lalu membayangkan betapa malang roh-roh mereka, yang mengira pembunuh layak mendapat kapling surga ; namun lebih tak masuk akal membayangkan bagaimana mereka bisa sampai mempercayainya..
Mungkin lebih gampang menerima logika, seorang suami yang membunuh istri karna cemburu dan sakit hati .. tapi membunuh orang yang tidak kita kenal dengan alasan apapun lalu berpikir itulah kebenaran ; benar-benar sakit jiwa ! Mampukah manusia menanamkan pikiran itu pada benak manusia lain, tanpa memiliki pikiran iblis dalam dirinya ?
Begitu banyak hujatan dan kutukan yang ditujukan pada para pembom itu, begitu banyak yang ‘mendoakan’ neraka terdalam, terpanas dan terngeri untuk mereka… rasanya sangat bisa dimaklumi jika ada penyataan2 seperti itu, mengingat kejinya perbuatan mereka ;
…. sementara aku cuma bisa tertegun lalu mendadak sesak dada… emosi jiwa..
Lalu termenung-menung teringat kisah Saulus, seorang pembunuh, penganiaya sesama bangsanya. Saulus bukanlah seorang dungu tapi seorang intelek ahli agama pada jamannya, yang mengganggap semua pembunuhan yang ia lakukan adalah untuk kemuliaan dan keyakinannya … sampai lalu,
pada suatu masa tersentak dan tersentuh hatinya…. sontak menyadari betapa kelirunya ia, selanjutnya adalah kisah pertobatan besar yang merubah sejarah hidup manusia … Sungguh indah jika saja Tuhan menegur dan menyentuh hati seluruh manusia !
Mengharapkan mukjizat Saulus dijaman internet... terlalu mustahilkah ??!!
Ahhh mukjizat selalu ada kawan, karena Tuhan itu sungguh besar kuasanya. Entahlah kalau memang mereka sudah digariskan jadi penghuni neraka… hanya Tuhan Sang Maha yang tau jawabnya….
*berandai-andai*….. seandainya nyawa sungguh-sungguh berharga….
Hmmmmhhhhh…….
5 komentar:
emang gak abis pikir gimana pikiran dan hati nurani nya para teroris itu...
yah moga2 mereka langsung masuk neraka dah!
Sedang apa TUHAN ketika mereka menarik picu, itu tanya teman saya yang kebetulan adiknya menjadi salah satu korban yg terluka.
Kalau mau bilang inilah hidup, kayaknya terlalu menggampangkan ya? Tapi itu dia kenyataannya. Saya yakin dari dahulu yg namanya fanatisme itu ada, buktinya Saulus kan bagian dari sejarah gelap pembantaian org Kristen mula2, demikian pula perang salib, dan juga Nazi di Jerman itu, saya juga yakin bhw the "useful idiots" dari dulu juga udh ada, hanya aja, dari dulu belum ada bom untuk membuat kerjaan mereka menjadi lebih mudah.
apapaun alasannya, agama, rasis, apapun itu...aku mengutuknya...Aku percaya, tak ada tempat buat mereka diatas sana...siapapun itu...
mereka orang-orang sakit!
*berandai-andai* seandainya yang didor! di Temanggung itu benar-benar Noordin. Grrr..... ternyata bukan. Geram.com
Posting Komentar